FARMAKOGNOSI RPS 3
Simplisia adalah bahan alami yang telah dikeringkan dan belum mengalami proses pengolahan yang digunakan sebagai obat-obatan herbal. Berdasarkan asalnya simplisia terbagi atas 3 yaitu :
- Simplisia nabati, contohnya bunga cengkeh, daun sirih, kulit kayu manis
- Simplisia hewani contohnya madu dan minyak ikan
- Simplisia pelikan/mineral contohnya serbuk seng dan tembaga
Dalam proses pengolahan simplisia terbagi atas beberapa tahap yaitu berawal dari sortasi basah, pencucian,penirisan,pengubahan bentuk, pengeringan, sortasi kering dan penyimpanan. Dalam proses penyimpanan ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi antara lain :
- Harus diberi label yang berisi informasi nama bahan, tanggal penyimpanan, berat/jumlah simplisia
- Harus memenuhi kaidah first in first out (FIFO)
- Disimpan pada suhu kamar (15-30°C) , tempat sejuk (5-15°C) atau tempat dingin (0-5°C) tergantung sifat dan ketahanan simplisia
- Tidak kontak langsung dengan matahari
- Disimpan di ruangan khusus tanpa tercampur dengan bahan lain
Sebelum tahap penyimpanan dilakukan standarisasi terhadap simplisia dengan parameter tertentu yaitu parameter non-spesifik yang berfokus pada aspek kimia, mikrobiologi, dan fisika seperti kadar air, cemaran logam berat, aflatoksin, dll. Sedangkan parameter spesifik lebih fokus pada senyawa atau golongan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas farmakologis. Kandungan senyawa aktif dalam simplisia diuji melalui tahap fitokimia. Uji fitokimia terbagi atas uji flavonoid, uji saponin,uji fenolik,uji tanin dan uji alkaloid. Melalui kandungan ini maka akan jelas diketahui apa dan bagaimana efek farmakologis yang dihasilkan dari suatu simplisia.
Temukan saya di menit 02.50
Dari beberapa syarat dalam penyimpanan simplisia yang anda sebutkan, bagaimana jika salah satu di antaranya tidak terlaksanakan atau tidak sesuai dengan apa yang harusnya, apakah simplisia tersebut masih bisa digunakan? Dan apa pengaruhnya terhadap kesehatan?
BalasHapusJika salah satu syarat dalam penyimpanan simplisia ada yang tidak terlaksanakan maka akan menyebabkan kerusakan lebih awal dari target yang ditentukan. Misalnya jika simplisia tidak disimpan pada suhu yang sesuai maka simplisia bisa jadi mengalami pembusukan lebih awal. Contoh lainnya jika simplisia tidak memenuhi kaidah first in first out (FIFO) maka simplisia akan mengalami kadaluarsa dan ketika sudah kadaluarsa maka zat aktif pada simplisia tersebut bisa jadi tidak berfungsi lagi untuk menghasilkan khasiat obat. Sehingga ketika dikonsumsi berulang kali pun tidak akan menimbulkan reaksi apapun sebab zat aktif yang berfungsi untuk menyembuhkan tadi sudah mengalami disfungsional. Atau bahkan bisa jadi juga simplisia mengalami kontaminasi ketika sudah kadaluarsa dan hal itu berdampak buruk bagi kesehatan konsumen jika pemakaiannya terus dilanjutkan.
Hapusbagaimana kita tau bahwa suatu tanaman memiliki senyawa aktif yang mengandung flavonoid dengan menggunakan metode uji flavonoid?
BalasHapusSuatu senyawa dapat dinyatakan mengandung flavonoid apabila ketika sampel uji yaitu simplisia ditambahkan dengan mg+ dan hcl akan menghasilkan warna merah jingga atau merah tua.
Hapuspada simplisia nabati, apakah semua tumbuhan dapat dijadikan simplisia? jika tidak, bagaimana kita tau suatu tanaman itu berpotensi menjadi simplisia yang untuk bahan obat yang bermutu, terutama obat tradisional?
BalasHapusSemua jenis tanaman bisa dijadikan simplisia akan tetapi harus melalui pengujian mutu. Untuk mengetahui mutu simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan kualitatif. Terdapat parameter baik itu spesifik (kandungan senyawa aktif) atau non-spesifik (secara kimia, biologi dan fisis). Simplisia dapat diuji berupa sayatan melintang, radial, paradermal, membujur ataupun serbuk. Dari pengujian ini akan diketahui jenis simplisia berdasarkan pragmen pragenal spesifik masing-masing simplisia.
Hapus